Selasa, 05 Agustus 2008

PEMILU 2009 Golput Diperkirakan Membengkak hingga 40 Persen

JAKARTA (Suara Karya): Jumlah pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya dalam pesta demokrasi yang akan digelar pada tahun 2009 mendatang diperkirakan akan membengkak hingga 40 persen.

Pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2004, jumlah golongan putih (golput) itu hanya mencapai 20 persen. Demikian hasil penelitian Reform Institute yang dipublikasikan di Jakarta, kemarin.

"Kepercayaan masyarakat terhadap citra pemerintah bisa terus merosot bila kinerja pemerintah tidak menunjukkan kemajuan. Bahkan, angka golput akan lebih tinggi dari prediksi 40 persen bila kondisi pemerintahan dan wakil rakyat tidak lagi dipercaya oleh masyarakat," kata Direktur Eksekutif Reform Institute Yudi Latif usai konferensi pers mengenai survei nasional "Pandangan Masyarakat mengenai Kepemimpinan Nasional dan Partai Politik", di Jakarta, Senin (4/8).

Dia meyebutkan, berdasarkan survei tentang pemilihan presiden dan wakil presiden (Pilpres) 2009 masih ada sekitar 28,8 persen responden yang tidak menyebutkan nama figur calon presiden (capres) yang dipilih, sedangkan untuk calon wakil presiden (cawapres), sebanyak 55,38 persen yang tidak menyebut nama kandidat.

Menurut dia, kondisi ini menunjukkan masyarakat yang tidak peduli pada persoalan politik, termasuk memenuhi kewajibannya untuk memberikan suara. "Survei ini respondennya tersebar di 33 provinsi dengan persentase responden 55 persen di perdesaan dan 45 persen di perkotaan. Jelas terlihat kalau masyarakat tidak lagi melihat partisipasi politik itu hal yang signifikan memengaruhi kehidupan mereka," kata Yudi.

Dia menambahkan, masyarakat Indonesia cenderung lebih baik bekerja membanting tulang daripada memberi suara di TPS-TPS (tempat pemungutan suara). "Karena mereka lebih memikirkan persoalan yang langsung berdampak pada hidup mereka seperti pangan dan pekerjaan yang masih belum bisa dipenuhi pemerintah sekarang," katanya.

Bersaing Ketat

Selain itu, berdasarkan hasil survei putaran kedua Reform Institute untuk calon presiden, Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bersaing ketat menjadi pilihan favorit responden untuk capres.

Survei nasional kedua mengenai Pilpres 2009 yang dilakukan Reform Institute berlangsung dari Juni-Juli 2008 dengan 2.519 responden, yang terperinci sebanyak 55 persen tersebar di daerah pedesaan 55 persen dan 44 persen di perkotaan dalam 33 provinsi di seluruh Indonesia.

Seperti diketahui, survei pertama mengenai Pilpres 2009 dilakukan pada Februari-Maret 2008 dengan 2.473 responden. "Dari sampel responden 2.361, SBY meraih 19,06 persen dan Megawati meraih 19,4 persen. Hasil itu menunjukkan popularitas SBY turun 5 persen dari survei sebelumnya meraih 24,8 persen dan Megawati justru naik popularitasnya tiga persen dari survei sebelumnya 16,8 persen," ucap Yudi.

Ia mengatakan, merosotnya popularitas SBY karena dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan Megawati memanfaatkan momentum tersebut. "Karena konsentrasi popularitas Megawati itu di Jawa, sementara masyarakat daerah itu sudah kecewa dengan kebijakan SBY," ujarnya.

Di tempat yang sama, peneliti Reform Institute Kholid Novianto menambahkan, survei ini dapat dipakai sebagai masukan bagi partai untuk menentukan strategi ke depan, seperti PDIP, misalnya, dapat membidik daerah luar Pulau Jawa pada Pemilu 2009. "Kami lakukan survei sengaja seminggu setelah harga BBM naik untuk mengetahui kecenderungan pilihan masyarakat. Pertanyaan yang diajukan mengenai pilpres ini bersifat terbuka, artinya calon-calon yang mengemuka itu berasal dari responden, tidak ada pemancing supaya menyebutkan nama figur capres," kata Kholid.

Kandidat lainnya, Sri Sultan HB X menempati posisi ketiga dengan 7,12 persen, Amien Rais (6,14 persen), Prabowo (3,81 persen), Gus Dur (3,3 persen), Wiranto (3,05 persen) serta Sutiyoso (1,57 persen).

Jika dibandingkan dengan hasil survei sebelumnya, Wiranto turun dari posisi semula di peringkat empat (4,5 persen) menjadi posisi ke-7 dengan 3,5 persen. Untuk posisi cawapres, tokoh yang paling populer adalah Hidayat Nur wahid (17,99 persen), disusul oleh Sri Sultan HB X (15,19), dan Jusuf Kalla (14,23).

Sumber: suarakarya-online.com

0 komentar: